Pusat Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami (PMBGT) Institut Teknologi Sumatera (ITERA) mendorong penguatan ketangguhan Provinsi Lampung dalam menghadapi ancaman bencana ekstrem melalui perencanaan berbasis risiko, penguatan infrastruktur, dan kolaborasi lintas sektor. Upaya tersebut dibahas dalam Seminar dan Diskusi Terpumpun Kebencanaan 2026 bertajuk Early Action: Membangun Ketangguhan Provinsi Lampung terhadap Ancaman Bencana Ekstrem yang berlangsung di Aula Gedung Kuliah Umum 2 ITERA, Selasa (27/10/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan PMBGT ITERA di bawah koordinasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITERA ini menghadirkan Ketua Umum Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) sekaligus Kepala PMBGT ITERA, Prof. Ir. Harkunti Pertiwi Rahayu, Ph.D., sebagai narasumber. Seminar turut melibatkan Anggota DPD RI asal Lampung, Dr. Ir. KH. Abdul Hakim, M.M., perwakilan pemerintah daerah, organisasi perangkat daerah, akademisi, dan mahasiswa untuk membahas strategi peningkatan kesiapsiagaan serta pengurangan risiko bencana di Provinsi Lampung.
Dekan Fakultas Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan (FTIK) ITERA, Roy Candra P. Sigalingging, S.T., M.Sc., Ph.D., yang mewakili Rektor ITERA, menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam merespons perkembangan ancaman bencana. Menurutnya, ITERA dapat menjadi ruang kolaborasi dan pertukaran pengetahuan antarpemangku kepentingan untuk memperkuat kesiapsiagaan daerah, sejalan dengan pendekatan pentahelix.
Ia juga mengajak mahasiswa untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi serta menerapkan pengetahuan kebencanaan di lingkungan masing-masing, termasuk melalui edukasi kepada masyarakat. “Kita sudah sangat rawan dengan bencana, jadi kita harus siap,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Lampung, Abraham Abkaman, S.STP., M.H., menjelaskan bahwa penanggulangan bencana perlu diarahkan pada pengurangan risiko melalui kolaborasi pentahelix dan hexahelix, penguatan literasi kebencanaan, serta peningkatan kapasitas kelembagaan.
Ia memaparkan bahwa berdasarkan dokumen perencanaan terbaru BNPB yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, kategori ancaman bencana bertambah dari delapan menjadi 14, mencakup bencana alam, nonalam, dan sosial. Untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, BPBD Provinsi Lampung menjalankan tiga program literasi kebencanaan, yaitu Desa Tangguh Bencana (Destana), Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana), dan Keluarga Tangguh Bencana (Katana).
Dari sisi pengurangan risiko, Abraham menyampaikan bahwa Indeks Risiko Bencana (IRB) Provinsi Lampung turun dari 135,66 pada 2023 menjadi 129,97 pada 2025. Pemerintah Provinsi Lampung menargetkan penurunan indeks tersebut pada 2026, disertai peningkatan indeks ketahanan daerah.
Infrastruktur dan Data sebagai Fondasi Ketangguhan Bencana
Dalam pemaparannya, Prof. Harkunti Pertiwi Rahayu menekankan bahwa infrastruktur merupakan salah satu fondasi utama ketangguhan wilayah, khususnya dalam mendukung konektivitas dan efektivitas sistem peringatan dini. Tanpa konektivitas yang memadai, penyebaran informasi, koordinasi, dan respons terhadap bencana dapat terhambat.
Berbagi pengalaman penanganan bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Tapanuli Selatan, Prof. Harkunti menjelaskan bahwa upaya mitigasi dan penanggulangan bencana perlu didukung perencanaan berbasis data yang mempertimbangkan risiko serta dampak terhadap masyarakat. Pendekatan tersebut diperlukan pada seluruh tahapan penanggulangan bencana, mulai dari mitigasi dan kesiapsiagaan hingga rehabilitasi dan rekonstruksi.
Menurutnya, perencanaan sebelum bencana perlu menggunakan pendekatan berbasis risiko (risk-based). Sementara itu, setelah bencana terjadi, pendekatan berbasis konsekuensi dan kerusakan (consequence/damage-based) diperlukan untuk menilai dampak serta mengidentifikasi perubahan tingkat kerentanan dan kapasitas daerah.
“Kalau hanya mengandalkan risk-based, performa daerah itu jelas berbeda,” kata Prof. Harkunti.
Ia menegaskan bahwa kedua pendekatan tersebut perlu diterapkan secara beriringan agar kebijakan penanggulangan bencana lebih komprehensif. Dengan demikian, pemulihan pascabencana tidak hanya berorientasi pada pembangunan kembali infrastruktur, tetapi juga pada pengurangan kerentanan dan peningkatan ketahanan masyarakat melalui prinsip build back better and sustainable.
Prof. Harkunti turut mengingatkan pentingnya memasukkan ancaman bencana berfrekuensi rendah, tetapi berdampak tinggi, ke dalam perencanaan mitigasi. Antisipasi terhadap berbagai skenario bencana diperlukan agar pemerintah dan masyarakat memiliki kesiapan menghadapi kejadian yang berpotensi menimbulkan kerusakan besar.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Memperkuat Kesiapsiagaan
Dalam seminar tersebut, Prof. Harkunti juga menyoroti berbagai kejadian bencana hidrometeorologi dan klimatologi yang dihadapi Indonesia, mulai dari banjir, banjir bandang, gerakan tanah, hingga cuaca ekstrem. Berdasarkan pengalamannya mengunjungi Solok, Sumatera Barat, ia menilai bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang dibahas dalam paparannya masih menghadapi tantangan besar.
Ia memperkirakan progres pemulihan baru mencapai sekitar 10 persen meskipun prosesnya telah berlangsung hampir satu tahun. Kebutuhan pendanaan dalam rencana induk rehabilitasi dan rekonstruksi diperkirakan mencapai sekitar Rp100 triliun, dengan sekitar 70 persen pelaksanaan melibatkan 22 kementerian dan lembaga. Koordinasi lintas lembaga dan ego sektoral menjadi tantangan dalam mempercepat proses pemulihan.
Menurut Prof. Harkunti, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bagi daerah lain, termasuk Provinsi Lampung, untuk memperkuat mekanisme koordinasi dan perencanaan penanggulangan bencana. Orientasi pada kemanusiaan perlu menjadi landasan kerja bersama agar kepentingan sektoral tidak menghambat pelaksanaan penanganan bencana.
Melalui seminar ini, PMBGT ITERA mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, dunia usaha, media, dan pemangku kepentingan lainnya dalam membangun ketangguhan wilayah. Diskusi ini diharapkan menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan gagasan untuk mendukung perencanaan mitigasi yang lebih terarah, adaptif, dan berkelanjutan dalam menghadapi ancaman bencana ekstrem di Provinsi Lampung.
Sumber : https://www.itera.ac.id/seminar-kebencanaan-itera-soroti-kesiapan-lampung-hadapi-bencana-ekstrem/
Fotografer: M. Jason Triadikara (Pariwisata) & Satyo Pratama S (Teknik Kimia)





