Pusat Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami Institut Teknologi Sumatera (ITERA) sukses menyelenggarakan rangkaian kegiatan edukatif bertajuk “Edukasi Kesiapsiagaan Bencana: Penguatan Kapasitas Masyarakat” pada 28-29 Oktober 2026. Kegiatan yang melibatkan mahasiswa dari Generasi Tangguh Bencana (Gatera) ini digelar dalam rangka rangkaian terakhir pasca Seminar Kebencanaan Nasional yang telah dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 2026 lalu. Program kolaboratif ini difokuskan pada penguatan ketangguhan masyarakat di kawasan pesisir yang memiliki potensi risiko tsunami, meliputi Desa Way Muli, Way Muli Timur, dan Kunjir di Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan.
Rangkaian kegiatan diawali pada tanggal 28 Oktober 2026 melalui agenda susur desa atau Town Watching. Tim peneliti ITERA bersama para mahasiswa Gatera turun langsung melakukan observasi lapangan untuk memetakan kondisi ketahanan sosial, ekonomi, lingkungan, serta infrastruktur fisik di masyarakat. Dari hasil tinjauan di Desa Way Muli, tim mengapresiasi ketersediaan jalur evakuasi yang telah menjangkau berbagai titik strategis. Guna semakin mengoptimalkan fungsinya, tim memberikan masukan konstruktif seperti penyesuaian letak penanda arah agar lebih mudah terlihat secara jelas, khususnya di area persimpangan. Selain itu, peningkatan kualitas akses jalan menuju titik kumpul melalui rencana pelebaran jalan dan penambahan penerangan juga dinilai sangat positif untuk mendukung kelancaran mobilitas warga. Tim juga memuji efektivitas tanggul pemecah ombak dari susunan batu yang telah terbangun kokoh di pesisir. Sebagai langkah keberlanjutan, tim merekomendasikan adanya pemantauan pada lereng area pengambilan batu tersebut guna menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah potensi longsor.
Pada tanggal 29 Oktober 2026, kegiatan dilanjutkan dengan sesi pemaparan hasil observasi dan materi kajian risiko bencana yang disampaikan oleh akademisi ITERA, Dr. Adnin Musadri Asbi, S.Hut., M.Sc.. Beliau melakukan edukasi kepada warga mengenai pentingnya tata kelola risiko bencana melalui pemahaman terhadap potensi ancaman, kerentanan wilayah, dan upaya kolaboratif untuk meningkatkan kapasitas masyarakat. Sesi ini berlanjut pada ruang diskusi interaktif yang hangat, dihadiri oleh Kepala Desa, perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan, serta para pengurus Desa Tangguh Bencana (Destana).
Dalam forum diskusi tersebut, berbagai gagasan positif dan langkah sinergis berhasil dirumuskan:
- Ketua Destana Desa Way Muli, Bapak Samsudin, menyampaikan rasa bangganya atas dedikasi tinggi para relawan dan menyambut baik adanya penyegaran teknik penanganan korban bencana. Beliau juga berharap pemenuhan Alat Pelindung Diri (APD) dapat terus diupayakan bersama guna mendukung standar operasional yang maksimal.
- Ketua Destana Desa Kunjir, Bapak Irwansyah, membagikan praktik baik di wilayahnya yang diuntungkan oleh tata letak permukiman yang cukup jauh dari bibir pantai, sehingga mendukung ekosistem kelancaran evakuasi meski belum dilengkapi instrumen EWS.
- Perwakilan Destana Way Muli Timur memberikan gagasan inovatif terkait perlunya perancangan sistem peringatan cadangan dan pemeliharaan berkala untuk Early Warning System (EWS) pasca-bencana. Beliau juga mendorong pelaksanaan simulasi rutin setahun sekali agar masyarakat semakin mandiri, serta pengusulan kelengkapan fasilitas di area titik kumpul.
- Menyambut antusiasme warga, pihak BPBD memastikan bahwa pemantauan sistem EWS telah terpusat secara nasional dan beroperasi penuh selama 24 jam. Terkait kebutuhan relawan, BPBD siap bersinergi mencari solusi bersama agar ketersediaan perangkat APD dapat terakomodasi di masa mendatang.
Berbekal hasil observasi dan diskusi tersebut, Pusat Mitigasi Bencana ITERA telah menyusun usulan prioritas kebijakan yang terukur. Pada rencana jangka pendek (0-6 bulan), prioritas diarahkan pada optimalisasi perangkat EWS ke seluruh area permukiman, melengkapi rambu evakuasi, dan memperbaiki penerangan. Untuk jangka menengah (6-12 bulan), penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) yang inklusif untuk lansia dan penyandang disabilitas, serta penyelenggaraan simulasi rutin akan digiatkan. Sedangkan untuk jangka panjang, ITERA merekomendasikan evaluasi struktur mitigasi pesisir secara berkelanjutan yang diimbangi dengan penghijauan vegetasi.
Menutup seluruh rangkaian acara, Dr. Adnin menegaskan komitmen kuat ITERA sebagai insitusi pendidikan untuk terus berbakti kepada masyarakat. Meski memiliki keterbatasan dalam pengadaan logistik operasional mitigasi kebencanaan, ITERA siap menjadi mitra strategis yang setia mendampingi BPBD dan warga melalui penyusunan kajian akademis yang komprehensif, mendukung perancangan edukasi, serta memfasilitasi program simulasi demi mewujudkan generasi yang berdaya dan tangguh bencana.




